Kenapa Kita Jadi Suka Teralihkan Padahal Niatnya Fokus -->

Header Menu

Kenapa Kita Jadi Suka Teralihkan Padahal Niatnya Fokus

Jurnalkitaplus
26/09/26


Uploaded Image

Sobat JKPers mungkin pernah ada di posisi ini. Baru buka laptop dan aplikasi untuk mengerjakan tugas, tiba-tiba sudah pindah ke aplikasi lain. Baru baca dua paragraf, tangan sudah cek notifikasi. 

Kejadian ini ternyata cukup umum dan ada datanya. Menurut Shannon Odell dalam video YouTube TED-Ed berjudul 4 ways to fix your attention span yang tayang pada 22 September 2026, sebuah riset pada tahun 2016 mengukur rentang perhatian kita. 

Partisipan diminta mengunduh program yang melacak berapa lama mereka bertahan di satu aplikasi komputer sebelum pindah ke aplikasi lain. Hasilnya, rata-rata orang hanya bertahan fokus selama 40 detik. 

Angka ini turun dari 75 detik yang diukur lima tahun sebelumnya. 

Menurut Odell, ini bukan berarti otak kita menjadi rusak. Hanya saja, di zaman sekarang, perhatian kita ditarik ke lebih banyak arah daripada sebelumnya. Mulai dari notifikasi, pikiran internal, sampai suara di sekitar. 

Bagaimana Otak Mengatur Fokus
Otak kita setiap saat menerima banjir informasi. Untuk menyaringnya, ada dua wilayah yang bekerja sama. Korteks prefrontal bertugas memutuskan apa yang perlu diperhatikan. Sementara korteks parietal bertugas menyorotkan perhatian itu, seperti lampu senter, dan mengabaikan yang lain. 

Tantangannya adalah menjaga lampu senter itu tetap di satu tempat. Otak akan otomatis mengalihkan fokus jika ada sesuatu yang dianggap baru, tidak terduga, atau bermuatan emosi. Misalnya ketukan pintu, bunyi notifikasi, atau bahkan pikiran yang lewat. 

Kemampuan untuk terus memindai lingkungan dan cepat beralih fokus ini sebenarnya penting untuk bertahan hidup. Jadi wajar jika kita sesekali terdistraksi. 

Kemampuan dasar mengelola distraksi pada setiap orang bisa berbeda, dipengaruhi oleh genetik dan kondisi otak. Namun ada beberapa cara yang bisa kita latih untuk menjaga fokus. 

4 Cara Melatih Kembali Rentang Perhatian 

Pilih tingkat tantangan yang pas. Tugas yang menantang dengan kadar yang tepat cenderung lebih bisa menahan perhatian. Misalnya, puzzle dengan pola yang agak sulit justru membuat kita lebih fokus dibanding puzzle yang terlalu mudah. 

Kerjakan satu hal dan beri jeda. Bayangkan fokus itu seperti baterai. Di awal, baterainya masih penuh, tapi kalau dipakai terus tanpa henti, lama-lama akan habis. Kalau kita mengerjakan banyak hal sekaligus, baterainya jadi lebih cepat habis. Karena itu, lebih baik kerjakan satu tugas dulu, lalu beri jeda sejenak. Istirahat sebentar untuk ngemil atau melamun saja sudah bisa membantu mengisi ulang fokus. Menariknya, saat kita jeda, otak diam-diam mengulang apa yang baru saja kita pelajari, jadi ingatan bisa jadi lebih kuat.

Jaga kondisi tubuh dan pikiran. Stres, mengantuk, dan suasana hati yang buruk dapat melemahkan kemampuan kita menyaring distraksi. Aktivitas yang mengurangi stres, seperti olahraga ringan, mengobrol dengan teman, atau tidur malam yang cukup akan membuat fokus lebih mudah terjaga. Menurut satu studi yang dibahas Odell, berjalan kaki selama 15 menit di luar ruangan terbukti meningkatkan performa tugas perhatian lebih baik dibanding berjalan kaki yang sama di dalam ruangan. 

Latih mindfulness dan singkirkan distraksi. Meditasi mindfulness adalah latihan untuk tetap berada di momen saat ini, misalnya dengan fokus pada sensasi bernapas selama 12 menit. Latihan ini dapat melatih perhatian dari waktu ke waktu. Dan cara paling mudah yang bisa dilakukan sekarang adalah menyingkirkan distraksi. 

Sebuah survei memperkirakan orang Amerika mengecek ponsel sekitar 200 kali sehari. Distraksi di layar memang dirancang untuk merebut dan menahan perhatian. 

Menemukan lingkungan yang tenang, menutup tab yang tidak perlu, dan memblokir aplikasi tertentu bisa memberi otak peluang terbaik untuk fokus. Jadi, jika Sobat JKPers merasa sulit fokus, ingatlah untuk bersikap baik pada diri sendiri. 

Kita tidak selalu bisa mengontrol semua hal yang menarik perhatian, tapi kita bisa mengatur lingkungan agar otak lebih mudah untuk fokus kembali. (ALR-26)