Pernahkah Sobat JKPers berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, tiba-tiba lupa mau melakukan apa.
Kejadiannya cukup sering sampai banyak orang mengira itu tanda pikun.
Ternyata, ini adalah fenomena memori yang cukup umum. Menurut Gabriel Radvansky dalam video TED-Ed berjudul Ever walk into a room and forget what you were doing? yang tayang pada 8 September 2026, fenomena ini disebut dengan doorway effect atau efek pintu.
Menurutnya otak kita tidak menyimpan hidup sebagai satu aliran panjang. Otak memotong-motong pengalaman menjadi beberapa peristiwa atau chapter yang terpisah.
Saat berada di satu ruangan, otak membuat sebuah model kerja tentang apa yang sedang terjadi. Model ini dibantu oleh jaringan bernama default mode network, yaitu bagian otak yang aktif saat kita berpikir dalam keadaan santai.
Ketika ada perubahan besar, seperti berpindah ruangan, otak akan menganggap itu sebagai batas dari sebuah peristiwa.
Otak kemudian menyimpan model peristiwa yang lama ke memori jangka panjang, dan mulai membuat model baru untuk ruangan yang baru. Proses ini disebut event update.
Pada saat proses pembaruan inilah memori jangka pendek dibersihkan untuk memberi ruang bagi informasi baru. Kadang, tujuan yang belum sempat diselesaikan ikut terbersihkan juga. Itulah kenapa kita jadi lupa.
Menurut riset yang dilakukan Radvansky dan timnya dari University of Notre Dame yang dipublikasikan di Quarterly Journal of Experimental Psychology pada tahun 2011, usia tidak terlalu berpengaruh pada fenomena ini. Artinya, semua orang bisa mengalaminya.
Beberapa temuan menarik dari riset tersebut adalah:
- Jarak jalan yang sama, tapi yang melewati pintu cenderung lebih lambat mengingat dan lebih mudah lupa dibanding yang tetap di ruangan yang sama.
- Efek ini juga terjadi di ruang virtual, tidak hanya pintu fisik. Bahkan melihat melalui dinding kaca ke ruangan sebelah saja bisa memicunya.
- Melakukan banyak hal sekaligus saat melewati pintu akan membuat memori lebih sulit untuk diingat kembali.
- Pemicunya tidak hanya pintu. Perubahan waktu, perubahan motivasi, alarm yang berbunyi, atau bahkan ganti tab di komputer bisa dianggap otak sebagai batas peristiwa yang baru.
Namun menariknya, menurut Radvansky, dalam kondisi tertentu perpindahan ruangan justru bisa membantu ingatan menjadi lebih rapi, karena informasi dipisah menjadi bagian yang lebih jelas dan tidak saling mengganggu.
Lantas bagaimana menyikapinya? Ada dua cara sederhana yang bisa Sobat JKPers lakukan.
Pertama, coba kembali ke tempat semula. Dengan kembali ke ruangan sebelumnya, otak akan mencoba memuat kembali model peristiwa yang lama.
Kedua, coba ucapkan tujuan secara sadar sebelum berpindah. Misalnya dengan mengulang dalam hati apa yang ingin dilakukan di ruangan selanjutnya. Dengan begitu tujuan tersebut tetap terjaga saat otak melakukan pembaruan.
Gimana menurut Sobat JKPers, kamu sering ngalamin ini engga? (ALR-26)
