Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya berupa laut. Kekayaan laut menjadi salah satu modal penting bagi masa depan bangsa. Namun, berbagai ancaman seperti sampah, pencemaran, dan kerusakan ekosistem membuat laut Indonesia membutuhkan perhatian dan aksi nyata dari seluruh masyarakat.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas dan menjadi penghubung antarpulau. Kondisi geografis tersebut menempatkan laut sebagai bagian penting dari kehidupan bangsa.
Pemerintah juga telah menempatkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Konsep tersebut tidak sekadar berbicara mengenai posisi geografis, tetapi juga bagaimana laut dikelola, dimanfaatkan, dan dijaga agar memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Laut Bukan Sekadar Wilayah Perairan
Laut menyimpan sumber daya hayati yang sangat besar. Berbagai jenis ikan, terumbu karang, mangrove, lamun, dan biota laut lainnya menjadi bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan manusia.
Laut juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Salah satunya melalui fitoplankton, organisme mikroskopis di laut yang melakukan fotosintesis dan berkontribusi besar terhadap produksi oksigen serta penyerapan karbon di atmosfer.
Karena itu, menjaga laut pada hakikatnya adalah menjaga keberlangsungan kehidupan. Sayangnya, kekayaan tersebut menghadapi berbagai ancaman.
Sampah menjadi salah satu persoalan yang paling mudah terlihat. Sampah yang dibuang sembarangan dapat terbawa aliran sungai hingga akhirnya bermuara di laut. Selain itu, pencemaran limbah industri, aktivitas oknum yang tidak bertanggung jawab, perusakan ekosistem, hingga aktivitas penambangan pasir laut dapat memberikan tekanan terhadap lingkungan pesisir dan laut.
Mikroplastik Berawal dari Perilaku Kita
Persoalan sampah di laut tidak selalu bermula di laut. Banyak di antaranya berawal dari kebiasaan sederhana di daratan.
Sampah plastik yang dibuang sembarangan dapat masuk ke selokan, sungai, kemudian terbawa hingga ke laut. Seiring waktu, plastik dapat terpecah menjadi partikel berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai mikroplastik.
Mikroplastik kemudian dapat masuk ke rantai makanan melalui organisme laut. Pada akhirnya, persoalan yang kita ciptakan di lingkungan dapat kembali kepada manusia melalui makanan yang dikonsumsi.
Karena itu, menjaga laut tidak cukup hanya dilakukan dengan membersihkan pantai. Perubahan harus dimulai dari sumber persoalan, yakni perilaku manusia dalam menggunakan dan membuang sampah.
Berkarya untuk Laut
Menjaga laut membutuhkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Pemanfaatan kekayaan laut harus memperhatikan kemampuan alam untuk memulihkan dirinya.
Tidak kalah penting, masyarakat perlu didorong untuk berkarya untuk laut. Kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu diwujudkan dalam kegiatan besar. Edukasi, inovasi, kegiatan bersih sungai dan pantai, pengembangan ekonomi berbasis lingkungan, hingga gerakan komunitas dapat menjadi bagian dari kontribusi nyata.
Perubahan besar sering kali dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Mengubah Gaya Hidup
Menjaga laut juga berarti mengubah kebiasaan sehari-hari. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, antara lain:
- Menggunakan tumbler untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
- Tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai, selokan, dan saluran air.
- Menggunakan tas belanja yang dapat dipakai berulang kali sehingga mengurangi penggunaan kantong plastik.
- Memilah sampah sejak dari rumah agar sampah yang masih dapat digunakan atau didaur ulang tidak langsung berakhir di tempat pembuangan.
- Melakukan aksi nyata untuk lingkungan sekitar, mulai dari membersihkan lingkungan, menanam pohon, menjaga sungai, hingga ikut dalam kegiatan pelestarian pesisir dan laut.
Pada akhirnya, laut Indonesia adalah kekayaan bersama sekaligus tanggung jawab bersama.
Menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia tidak cukup hanya dengan membangun pelabuhan, industri, dan infrastruktur kelautan. Laut harus tetap sehat agar dapat menopang kehidupan generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Menjaga laut dimulai dari diri sendiri. Apa yang kita buang hari ini, bisa kembali kepada kita di kemudian hari. Karena itu, mari berkarya untuk laut, mengubah gaya hidup, dan menjaga lingkungan mulai dari sekitar kita. | FG12
Artikel ini disusun dari Istighosah Reksa Mahardhika pada 21Agustus 2026 yang di sampaikan oleh Muhammad Aziz Al-Qudus bin Ahmad Yani dengan tema Maritim Berkarya Indonesia maju, dengan proses editing seperlunya

